PENDIDIKAN BERBASIS BUDAYA MENUJU KEUNGGULAN BANGSA
July 20, 2017
0

PENDIDIKAN BERBASIS BUDAYA MENUJU KEUNGGULAN BANGSA[1]
Prof. Dr. Ravik Karsidi, M.S.[2]

Keunggulan sebuah Bangsa
terletak pada keunggulan Sistem Nilai Budayanya

Pendahuluan

Modernisasi (dan anaknya yaitu sistem informasi digital) telah berkembang luar biasa maju. Produk-produk digital telah berhasil menembus kodrat zaman, waktu, dan ruangnya. Teknologi cybernetic telah berhasil menjadi sumber informasi, sumber rujukan, wahana dan laboratorium tempat berbagai golongan dan kelompok orang bertemu dan berinteraksi. Tidaklah berlebihan apabila dikatakan teknologi digital telah merebut posisi manusia sebagai produsen budaya.

Di balik capaian yang mengagumkan itu, terselip rasa cemas dan timbul pertanyaan besar. Mengapa justru semakin banyak manusia merasa gagal karena merasa hidup dalam kekosongan makna? Kondisi tersebut telah melahirkan dampak sosok soliter dan apatis, gaps kemiskinan yang semakin melebar, ketimpangan sosial, dekadensi moral akut dan patologis serta ketimpangan sosial (Soenarto, 1993). Dalam keadaan tersebut tidak semua orang mampu menyelami hidup yang begitu cepat berubah. Masihkah ada jawaban dan jalan keluarnya?

Babak Baru Kebudayaan

Kebudayaan Indonesia terbentuk dari beraneka ragam budaya etnik yang  merupakan hasil budidaya suku-suku bangsa yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Di antara warna-warni suku bangsa, adat, dan tradisi itu terdapat garis merah yang menunjukkan persamaan spirit, sikap, dan pandangan hidup berbangsa. Kebudayaan Indonesia pada konteks kehidupan berbangsa juga menjadi pengawal proses transfer menuju peradaban yang lebih baik, lebih maju, dan harmonis (Sutarja, 2000). Pada gilirannya diharapkan kebudayaan tersebut mampu menjamin kualitas dan kesinambungan hidup manusia Indonesia. Kualitas hidup yang sinambung menurut Kras (1995) membutuhkan kecakapan sikap dan kesantunan perilaku yang mewujud ke dalam sosok pribadi masyarakat Indonesia yang matang, cerdas, kreatif, jujur, dan berkarakter.

Kebudayaan senantiasa bergerak dan berubah sepanjang kehidupan itu sendiri. Setiap kurun zaman, kebudayaan selalu melahirkan lambang dan simbol “medan pertarungan” dimana begitu banyak makna  dan ideologi berebut perhatian publik dan seterusnya membentuk kesadaran, memori, dan daya bawah sadar masyarakat. Hingga pertengahan abad 20, masyarakat Indonesia mengalami tiga kategori zaman, yaitu kategori tradisional patrimonial (mitis-komunal), kapitalis  (realis-individual),  dan teknokratis (pseudo-realis). Menjelang abad 21, kebudayaan Indonesia memasuki era digital sepenuhnya. Perkembangan ilmu pengetahuan telah mendobrak cara pandang konvensional menjadi super-digital. Wilayah Indonesia yang begitu luas digerakkan dari nadi teknologi nir-kabel Cybernetic-virtual. Dalam kondisi tersebut, kini masyarakat Indonesia bergerak cepat menuju simbol baru yang soliter-impersonal. Takpelak, perilaku budaya kita menjadi limbung menghadapi perubahan yang begitu sangat cepat ini.

Selanjutnya, kebudayaan memasuki an ever-moving era ‘zaman yang serba bergerak’. Kita memasuki siklus gagasan dan tindakan yang tidak mengenal putus, eksperimen yang nyaris tiada henti (Eliot, 1984). Pada zaman ini ideologi dan warisan nilai kearifan hidup yang dianggap “agung” sering dimaknai secara sinis sebagai narasi lama yang perlu dirombak total dan dihancurkan secara membabi buta. Gaya hidup yang serba cepat, praktis, dan instan lebih mendapat tempat di hati masyarakat ketimbang ”laku” hidup yang panjang berliku-liku dan melelahkan. Situasi ini didukung oleh perkembangan dunia media nasional. Media –di satu sisi– menjadi ujung tombak kemajuan, namun sisi lain media menjadikan manusia sekadar sebagai komoditas (Loomba, 2016) yang dapat diperjualbelikan, ditawar, ditukar, dan dipoles selayaknya barang baru (padahal stok lama).

Kini, kebudayaan berdiri di tengah zaman post-truth era. Rentang zaman yang oleh Keyes (2004) digambarkan sebagai masa yang semakin susah mengais kebenaran sejati, kecuali berondongan informasi yang jauh dari jejak fakta objektif. Di dalam konteks kebudayaan, bentuk-bentuk ‘penguasaan’ baru telah lahir untuk tidak hanya pengendalian sistem pemerintahan, ekonomi, dan energi, melainkan untuk penguasaan “sistem nilai budaya” suatu bangsa lain. Dalam kalimat pendek adalah “membudayakan budaya bangsa lain”. Dalam konteks budaya global kita kenal apa yang disebut globalisasi. Neo-Colonialism mendapatkan pengertiannya yang baru di era Post-Truth. Ambisi ekspansi budaya ke wilayah budaya bangsa lain dilakukan dengan cara membiaskan nilai-nilai budaya lokal dan menindihnya dengan konstruk budaya baru, serta memisahkan spirit generasi mudanya dari sejarah bangsa dan akar budayanya sendiri (Eagleton, 2000). Spirit mitologis dan legenda lokal dihancurkan secara sistematis dengan mitos-mitos post-modern, nilai filosofis warisan leluhur terdepak oleh fenomena permainan simulacrum yang membunuh makna (Baudrilard, 1983  & 1990).

Dampaknya juga terasa di dalam sistem pendidikan nasional kita. Upaya peningkatan kualitas pendidikan selalu diidentikkan dengan penambahan jam pelajaran di sekolah, pengertian sekolah disederhanakan dengan “kelas”, pekerjaan rumah siswa yang merampas waktu bermain, memanjat pohon, membaca sajak, melukis, dan berbagai aktivitas rekreatif anak-anak yang kini justru digalakkan di negara-negara Eropa. Finlandia adalah salah satu negara yang memberi waktu dan kesempatan yang luas kepada siswa untuk melakukan aktivitas eksploratif-kultural di dalam dan diluar jam sekolah. Pelajaran membaca puisi, menyanyikan lagu, olah raga, permainan, piano, melukis, dll. dipandang sama pentingnya dengan pelajaran fisika, biologi, dan atau kimia (Wuorinen, 1965).

Hasilnya, Finlandia diakui sebagai negara terbaik dan menempati posisi pertama Indeks Manusia Dunia (Newsweek, 16 Agt. 2010) di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, dan budaya. Kunci keberhasilan Pemerintah Finlandia bersandar dua hal pokok. Pertama, mereka memahami sepenuhnya arti pentingnya mengapresiasi pluralitas penge­tahuan. Siswa diberikan kesempatan luas untuk mengalami kemungkinan-kemungkinan lain dalam menjelajah kebenaran, sehingga tumbuh berkembang sebagai masyarakat muda yang tak gampang menelan informasi dan terbiasa menyampaikan ide, gagasan, dan pemikiran secara merdeka. Mereka lebih terbuka melihat perkara dari beragam tafsir dan sudut pandang. Menurutnya, pemikiran yang statis-dogmatis justru akan melumpuhkan, menutup telaah dan memandegkan pikiran mereka.

Kedua, mereka beranggapan bahwa pencarian identitas merupakan bagian pokok dari ilmu manusiawi dan ilmu sosial sehingga perlu ditanamkan kepada anak sejak dini. Kebijakan pendidikan di sana benar-benar dikawal agar semakin kuat mendorong kreativitas anak untuk mengerjakan, merasakan, dan kembali mengalami “harta warisan” masa lampau hingga pada saatnya mereka mampu mengubahnya ke arah yang sistematis-kondisional dan (tentu saja) rasional. Mereka sama sekali tidak menolak dunia modern tetapi mereka tidak mau dunia modern justru akan membuat rakyatnya bingung dan lebih terpuruk lagi karena kehilangan identitas. Oleh karena itu mereka bekerja keras membangun identitas masa depan bangsa justru dengan nilai budaya masa lampaunya (Prudentia, 2010).

Kebudayaan dan Sistem Nilai

Mengawali bagian ini, izinkan saya sedikit mengambil ancangan ke belakang. Kebudayaan akan terus menerus mendapatkan pengertiannya secara dimensional berdasarkan konteks waktu, ruang, dan kebutuhan (activity). Mengapa demikian, karena terminology kebudayaan akan selalu mengikuti pola dan system adaptasi masyarakat di dalam menjalankan kehidupannya. Jadi, sekadar menggunakannya sebagai awalan, tidaklah keliru jika kebudayaan dipahami sebagai keseluruhan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia dalam rangka meningkatkan kualitas seluruh dimensi kehidupan manusia. “Memanusiakan manusia” adalah kata kuncinya sekaligus menjadi visi budaya yang menyentuh naluri dasar setiap manusia, kemudian berkembang secara sistemik menjadi perilaku dan norma komunal, serta berpola menjadi sistem peri-kehidupan suatu masyarakat. Artinya, kebudayaan adalah perilaku sistematik untuk membangun sistem nilai sebagai panduan menjalani kehidupan dari generasi ke generasi dalam suatu wilayah budaya.

Sistem nilai budaya selalu megacu pada kearifan masa lampau. Masa lampau adalah  referensi dan bahan baku mengembangkan struktur dan tekstur masa depan kehidupan. Ketika satu generasi sudah mulai mengabaikan sistem nilai budaya yang positif dari pendahulunya, itu berarti tanda bahwa peri-kehidupan di wilayah itu sudah mulai rapuh. Dan, jika kondisi tersebut dibarengi dengan datangnya gelombang era pembudayaan budaya bangsa lain, hasilnya tentu dapat dibayangkan, keadaan suram suatu bangsa karena menjadi boneka bangsa lain. Bangsa yang demikian itu hidup di atas panggung pertunjukan dunia yang scenario dan ending ceritanya ditentukan oleh bangsa lain. Merekalah bangsa yang telah kehilangan identitasnya, bangsa yang kehilangan karakternya sebagai bangsa. Inilah yang sedang kita alami dengan globalisasi (melokalkan era pembudayaan/nilai-nilai bangsa lain).

Kesadaran bahwa kebudayaan adalah “sistem nilai” harus kembali digiatkan. Kesadaran bahwa sistem nilai yang telah dibangun oleh para pendahulu bukanlah metoda pragmatis temporal, melainkan telah teruji oleh berbagai kondisi zaman dari generasi ke generasi. Tradisi bukanlah hambatan bagi tatanan dunia modern, hanya perlu disusun “model sosial baru” sehingga mampu diwujudkan tipe ideal masyarakat Indonesia dengan identitas nasional. Kebudayaan yang diwarisi dan dipakai adalah sistem nilai yang relevan dan dianggap paling tepat untuk konteks ruang budayanya, sehingga bentuk-bentuk penguatan budaya itu pada dasarnya adalah strategi adaptif untuk akselerasi pada konteks waktunya.

Sudah saatnya kita memulai dan terus menerus mengembangkan paradigm dalam mengglobalkan kearifan lokal (glokalisasi) sebagai bangsa yang kaya dengan budaya dan nilai-nilai luhur, sudah saatnya sudah bertindak mengglobalkannya (Karsidi, 2016). Tindakannya lokal tetapi dampaknya global. Misalnya, melalui teknologi informasi/digital harus dijadikan kemudahan oleh manusia dalam mengenalkan kearifan lokal. Dengan adanya pengenalan terhadap kearifan lokal, maka akan tercipta pengembangan nilai-nilai luhur dalam memperkokoh jati diri bangsa. Nilai-nilai lokal seperti kerukunan, gotong royong, keramahan, kejujuran, keberanian, keuletan, kerja keras, ssangat penting untuk dikokohkan sebagai rujukan nilai global.

Untuk upaya mengglobalkan kearifan lokal (glokalisasi) tersebut diperlukan kesiapan SDM dengan sistem inovasi nasional, produktivitas dan daya saing bangsa. Dengan terwujudnya sistem inovasi nasional juga akan berpengaruh pada proses pendidikan. Karena, sistem inovasi akan banyak berkaitan antara aktor, kelembagaan, jaringan, dan kemitraan.

Budaya, Pendidikan, dan Bangsa

Sistem nilai budaya kita telah memahat sejarah panjang peradaban etnik nusantara hingga menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Potensi alam yang berlimpah tiada dua di belahan dunia mana pun. Ribuan pulau, adat-istiadat, seni dan budaya lokal yang telah teruji menembus kodrat zaman, adalah potensi mengagumkan untuk membangun bangsa ini menjadi bangsa yang unggul. Pada konteks pembangunan nasional, diperlukan strategi “pengelolaan pemahaman” bahwa kita memiliki asset budaya sebagai sistem nilai yang kaya. Sepatutnya strategi pendidikan yang diterapkan juga harus berbasis budaya. Dengan demikian, keunggulan bangsa akan tercapai dengan sendirinya jika kita mampu mengelola potensi budaya sebagai “sistem nilai” secara optimal. Strategi pendidikan berbasis budaya sebagai proses nilai adalah kemampuan meningkatkan standar nilai potensi budaya bangsa yang berdaya saing tinggi di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Baca selengkapnya…

———————————————————–

[1] Disampaikan dalam Seminar Internasional: “Character Development in the 21st Century Education” Universitas PGRI Yogyakarta, 20 Juli 2017

[2] Guru Besar Sosiologi Pendidikan, kini menjabat sebagai Rektor Universitas Sebelas Maret dan Ketua Umum Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS)

Leave a Reply