Tentang HIPIIS

Prakarsa pendirian HIPIIS diawali dari undangan Sosiolog Selo Soemardjan kepada Taufik Abdullah, Koentjaraningrat dan Harsja Bachtiar di Kantor Wapres. Selo Soemardjan kala itu menjabat sebagai Sekretaris Wapres Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dalam pertemuan di kantor Wapres tersebut mencuat keinginan untuk membentuk sebuah asosiasi yang menghimpun para ilmuan sosial di Tanah Air. Taufik Abdullah mengundang sekitar 30 orang ilmuan sosial di kantor Lembaga Ekonomi Kemasyarakatan Nasional (Leknas) LIPI, Jalan Cik Ditiro, Jakarta Pusat. Mereka bersepakat membentuk Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial disingkat HIPIS dengan terjemahan “Indonesian Society for the Development of Social Sciences”, pada Maret 1974.
Organisasi ini dimotori oleh sejumlah ilmuan sosial kenamaan seperti Soedjatmoko, Taufik Abdullah, Mely G. Tan, Harsya Bachtiar. Taufik Abdullah langsung didaulat oleh Selo Soemardjan sebagai Ketua Interim HIPIS. Singkatan HIPIS dengan satu I berkonotasi kepada istilah hippies yang urakan saat itu, akhirnya pada kongres Ujung Pandang 1986 disahkan dengan dua I (HIPIIS). Membina kerja sama antar ahli dan mengembangkan berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya mempelajari masyarakat dan kebudayaan, demi tercapainya perbaikan yang terus menerus dari mutu kehidupan warga negara Republik Indonesia dan berkembangnya ilmu-ilmu sosial (Anggaran Dasar Pasal 5).

Usaha HIPIIS menurut Anggaran Dasar Pasal 6 adalah (a) Menggiatkan penelitian dan pengkajian masalah-masalah kemasyarakatan; (b) Menyelenggarakan forum-forum pertemuan ilmiah; (c) Mengadakan kerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan dan penelitian di lapangan ilmu-ilmu sosial di dalam dan luar negeri; (d) Menyelenggarakan penerbitan bahan-bahan berkala; (e) Mengusahakan dana dan sarana dari berbagai sumber yang diperlukan untuk membantu kegiatan-kegiatan ilmiah; (f) Membina kebiasaan di antara para anggota untuk saling memberikan tanggapan atas karya-karya ilmiah; (g) Meningkatkan kemampuan anggota melalui penataran dan pengiriman ke dalam dan atau ke luar negeri.

Pada periode ini dilakukan beberapa kali pertemuan ilmiah yakni Lokakarya I dengan tema “Strategi Pengembangan Ilmu Ilmu Sosial di Indonesia”, di Jakarta pada tanggal 20-21 Agustus 1976. Lokakarya II dengan tema ”Etika Ilmu Pengetahuan dan Peningkatan Mutu Kesarjanaan” di Medan pada tanggal 6-8 Januari 1977. Hasil-hasil lokakarya tersebut dibukukan oleh Ismid Hadad dan Rusdi Mochtar (editor), dalam Etika ilmu pengetahuan dan peningkatan mutu kesarjanaan: kumpulan hasil-hasil seminar yang diselenggarakan oleh Himpunan Indonesia Untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial di Medan, tanggal 6-8 Januari 1977, diterbitkan oleh Sekretariat Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial, Jakarta. HIPIIS berkolaborasi dengan Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial (YIIS) mengadakan Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial (PLPIS) yang diselenggarakan di Aceh, Makassar, Surabaya, Jakarta, Medan. Para alumnus training PLPIS menjadi pengurus HIPIIS di berbagai daerah. Diantaranya Usman Pelly, Profesor Antropologi Unimed menjadi Ketua Komisariat HIPIIS untuk Medan adalah alumnus PLPIS di Ujung Pandang.

Kongres HIPIIS ke-II dilaksanakan di Manado pada 14-20 November 1977, tema besar yang diketengahkan adalah “Kebudayaan Politik dan Keadilan Sosial”. Adam Malik diundang untuk menyampaikan pidato kunci sebagai Ketua MPR-DPR Republik Indonesia. Hasil lengkap mengenai pelaksanaan kongres dan seminar Manado bisa dibaca secara detail dalam buku yang disunting oleh Ismid Hadad setebal 252 halaman dengan judul “Kebudayaan, politik dan keadilan sosial: seminar nasional dan diskusi panel Himpunan Indonesia Untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial di Manado (LP3ES, 1982).

Kongres HIPIIS ke-III diselenggarakan di Malang pada 13-17 Nopember 1979 itu termasuk monumental karena wacana ‘Kemiskinan Struktural’ dikupas tuntas dari berbagai aspek. 14 dari 47 makalah yang disajikan dalam seminar dan kongres Malang itu disunting Alfian, Mely G. Tan, Selo Soemardjan, Kemiskinan Struktural: Suatu Bunga Rampai, yang diterbitkan Yayasan Ilmu-ilmu Sosial (1980) setebal 189 halaman. Kongres menetapkan Koordinator Formatur adalah Ilmuan Politik, Alfian. Alfian meminta kesediaan Harsojo, Guru Besar ilmu sejarah UI dan Wakil Kepala BP7, sebagai Ketua Umum dengan Juwono Soedarsono (Wakil Ketua I) dan Alwi Dahlan (Wakil Ketua II). Namun, Prof. Harsojo belum sempat berkiprah di HIPIIS meninggal dunia. Akibatnya, HIPIIS vakum selama tiga tahun.

Kongres HIPIIS ke-IV dilaksanakan di Palembang Maret 1984 dengan tema “Kualitas Manusia dalam Pembangunan”. Alwi Dahlan terpilih sebagai Ketua Umum orientasi HIPIIS dianggap cenderung mendekat kepada kekuasaan. Mengingat begitu pentingnya pertemuan HIPIIS di Palembang itu, Jurnal LP3ES Prisma, khusus mengangkat laporan satu edisi penuh No 9/1984 dengan laporan utama “Kualitas Manusia: Tantangan Ilmu Sosial”.

Kongres HIPIIS ke-V diselenggarakan di Ujung Pandang pada 15-19 Desember 1986. Tema kongres dan seminar kali ini adalah “Mempersiapkan Masyarakat Masa Depan”. Dihadiri sekitar 1500 orang peserta yang bukan hanya kalangan akademisi, termasuk birokrat pemerintahan. Kendati Presiden Soeharto tidak hadir dalam pembukaan, namun sambutan tertulisnya dibacakan oleh Mensesneg Sudharmono.

Kongres HIPIIS ke-VI dilaksanakan di Yogyakarta pada 16-21 Juli 1990 dengan tema “Membangun Martabat Manusia”. Presiden Soeharto langsung yang membuka seminar dan kongres. Hasil seminar dan kongres HIPIIS ke-VI diharapkan bisa merumuskan masukan dan rekomendasi bagi MPR dan Pemerintah, sebagai bahan untuk GBHN 1993 dan Pelita VI. Pada kongres ini terpilih lagi Prof. Dr. Alwi Dahlan sebagai Ketua Umum HIPIIS.

Kongres HIPIIS ke-VII pada 18-22 Maret 1997 di Medan, yang mengambil tema “Mempersiapkan Masyarakat Profesional Indonesia 2003”. Dihadiri oleh Presiden Soeharto, Mensesneg Moerdiono, Menristek/Ketua BPPT BJ Habibie, dan Gubernur Sumut Raja Inal Siregar. Sekitar 600 orang hadir memenuhi Balai Raya Hotel Tiara, Medan. Kongres diikuti Komisariat dari 17 daerah. Dalam kongres ini Prof Dr Mulyanto Sumardi menjadi Ketua Umum HIPIIS, sedangkan Wakil Ketua Umum terpilih adalah Prof Dr Sofian Efendi Asisten V Menristek. Penghargaan Ilmu-ilmu Sosial diberikan kepada Prof Sartono Kartodirdjo, Dr. Soedjatmoko, dan Prof. Dr. Koentjaraningrat.

Hanya berselang satu tahun sejak kongres Medan, pada 1998 kembali mengadakan Kongres HIPIIS ke-VIII di Jakarta, di gedung BKKBN, Halim Perdana Kusuma. Pada kongres kali ini ditetapkan Prof Sofian Effendi sebagai Ketua Umum bersama Dr Moeslim Abdurrahman sebagai Sekretatis Umum. Sejak saat itu, HIPIIS tak terdengar lagi gaungnya hampir 15 tahun lamanya.

Kongres HIPIIS ke-IX diadakan di Kentingan, UNS, Solo, 23-24 Oktober 2013. Tema “Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Kongres di buka oleh Ketua MPR RI Sidarto Danusubroto. Kongres menetapkan Prof. Dr. Ravik Karsidi, MS sebagai Ketua Umum. Penghargaan “Ilmu-Ilmu Sosial HIPIIS 2013” diberikan kepada Prof. Dr. Sediono Tjondronegoro, Dr. Yudi Latif, Dr. Ignas Kleden, KH. Mustofa Bisri, Prof Dr. Musdah Mulia.

Sementara itu, Kongres HIPIIS ke-X akan diadakan di Sukoharjo pada 9-10 Agustus 2017 dengan mengangkat tema ”Peranan Ilmu-Ilmu Sosial dalam Menjaga Kebhinekaan dan Persatuan Bangsa”. Kongres rencananya akan dibuka oleh Presiden RI Ir. H. Joko Widodo. Penghargaan Ilmu-Ilmu Sosial akan diserahkan kepada Emha Ainun Najib dan Prof. Dr. R. Siti Zuhro.

Pelaksanaan Kongres HIPIIS ke-X selengkapnya di link berikut.